Bismillahirrahmanirrahiim
Kadang sejarah tidak runtuh dengan ledakan,
tetapi dengan suara yang pelan, rambut yang menipis, langkah yang melambat,
dan tatapan seseorang yang tiba-tiba tampak jauh dari dirinya sendiri.
Dalam neurosains, tubuh mencatat semua yang tak diucapkan.
Kortisol memendekkan telomer, ekor kromosom yang menjadi penanda harapan hidup,
Inflamasi kronik mengubah ekspresi gen,
dan wajah adalah layar bioskop tempat memori hidup diputar ulang.
Rambut gugur bukan hanya genetika, ia simbol mahkota biologis yang perlahan kembali ke tanah.
Dalam imunologi klinis, kita mengenal fenomena ketika tubuh menyerang dirinya sendiri.
Autoimun berat sering menampakkan tanda yang tak keras suaranya,
namun dalam diamnya kita membaca perang dari dalam:
•kulit pucat, warna tidak stabil, mudah meradang,
•moonface akibat retensi cairan dan efek steroid kronis,
•rambut menipis cepat, seperti mahkota yang mulai melepas bebannya,
•langkah yang pelan: bukan lemah, tapi seperti tulang yang memikul beban yang dibikin sendiri,
•tatapan kosong: brain fog, ketika pikiran lelah berperang dengan segala keadaan yang tak lagi bisa diatur dan dikuasai,
•postur sedikit membungkuk, seolah tubuh berkata aku bersikeras membalikkan waktu.
Tulisan ini bukan untuk menuduh seorang tokoh sakit.
Ini daftar tanda klinis umum, tetapi juga metafor politik tubuh.
Karena sering kali sejarah dan biologi memiliki pola yang sama:
tubuh yang lelah = kekuasaan yang selesai,
wajah yang pucat = cahaya kuasa yang menurun,
mahkota rambut yang luruh = era yang selesai.
Kekuasaan jarang runtuh dengan kerusuhan.
Ia surut dengan keheningan.
Dengan hilangnya karisma biologis,
dengan publik yang tidak lagi terpikat pada narasi lama,
dengan tubuh yang perlahan berubah menjadi cerminan saatnya layar panggung ditutup
Kita hidup di titik balik peradaban Nusantara.
Gelombang politik bergeser dari visual ke substansi,
dari teater kuasa ke audit memori,
dari figur tunggal ke kesadaran kolektif.
Indonesia sedang memasuki fase Working Prophecy,
dimana sejarah tidak hanya dicatat,
tetapi dirombak, ditafsir ulang, dan dilahirkan kembali.
Ini bukan tentang satu sosok.
Ini tentang sebuah era yang menua,
tentang medan energi bangsa yang bergerak,
tentang cerita yang meminta penulis huruf pertama baru.
Mungkin gejala-gejala pada tubuh hanya potongan kecil.
Namun bagi yang membaca dengan mata batin,
itu terasa seperti frekuensi alam yang berkata lirih:
“Bab ini sudah selesai.”
Autoimun biologis adalah ketika tubuh memerangi dirinya.
Autoimun politik adalah ketika bangsa memerangi ingatannya.
Dan di tengah inflamasi sosial itu, kita ditanya:
Apakah kita akan terus sakit,
atau mulai menyembuhkan diri sebagai satu tubuh bernama Indonesia?
Bangsa ini sedang berganti kulit.
Dan setiap helai rambut yang gugur di panggung sejarah,
adalah tanda bahwa halaman berikutnya menunggu dituliskan.
Saya, untuk kesekian kalinya berkata: tolongan diingatkan, kondisinya serius dan perlu perawatan, sebelum semuanya terlambat.
Laa haula wala quwwata ilabillah.
Salam takzim
dr. Tifauzia Tyassuma, M.Sc


